Gerakan Perempuan di Era Modern: Dari Perlawanan Menuju Kesadaran Kritis
Sering kali saya mendengar orang berkata bahwa 'Masih relevankah gerakan perempuan di masa sekarang?” Apalagi ketika banyak orang melihat perempuan sudah mendapat hak yang sama dalam pendidikan, politik, dan pekerjaan. Sekilas, pandangan itu tampak benar. Namun, ketika kita menengok lebih dalam ke realitas sosial, masih banyak luka yang belum sembuh. Kekerasan terhadap perempuan, ketimpangan upah, dan stereotip peran gender masih menjadi bayangan panjang yang belum tuntas dihapuskan.
Berdasarkan laporan Komnas Perempuan tahun 2024 mencatat, ada 457.895 kasus kekerasan terhadap perempuan, dengan 64 persen di antaranya terjadi di ranah domestik. Data itu menampar kesadaran, perempuan masih kerap menjadi korban di ruang yang seharusnya paling aman, yaitu rumahnya sendiri. Maka, gerakan perempuan bukan sekadar nostalgia masa lalu, tetapi kebutuhan yang terus hidup di tengah ketimpangan yang belum usai.
Gerakan perempuan tidak lahir dari rasa ingin diistimewakan, tetapi dari kesadaran bahwa ada sistem sosial yang masih belum memberi ruang adil bagi perempuan untuk berdiri sejajar.
Meski begitu, sering kali gerakan perempuan disalahpahami. Ada yang menganggapnya sebagai upaya untuk menunjukkan superioritas perempuan atau menyaingi laki-laki. Padahal, inti perjuangan perempuan bukan soal siapa yang lebih kuat, tapi bagaimana bisa setara.
Data dari Badan Pusat Statistika (BPS) Tahun 2023 menunjukkan kesenjangan upah antara laki-laki dan perempuan masih sekitar 23 persen dan perempuan menempati 22,1 persen kursi di DPR RI periode 2024-2029.
Artinya, struktur sosial kita masih belum netral. Perjuangan perempuan bukan tentang merebut posisi laki-laki, tetapi membenahi sistem yang belum adil bagi semua.
Jejak Panjang Kesadaran Perempuan Indonesia
Gerakan perempuan Indonesia memiliki akar yang dalam. R.A. Kartini sering disebut sebagai simbol awal kesadaran perempuan terhadap pentingnya pendidikan dan kebebasan berpikir. Namun, perjuangan itu tidak berhenti di sana. Setelahnya muncul organisasi seperti Putri Mardika (1912) dan Aisyiyah (1917) yang membawa semangat pencerahan bagi perempuan pribumi.
Kemudian, tonggak penting terjadi pada Kongres Perempuan Indonesia 1928 di Yogyakarta. Di sana, perempuan untuk pertama kalinya membicarakan isu hak politik, pendidikan, dan pernikahan anak. Peristiwa ini menandai bahwa perempuan bukan lagi sekadar pendamping perjuangan laki-laki, melainkan subjek perjuangan bangsa.
Setelah kemerdekaan, muncul Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) yang memperjuangkan hak-hak sosial, ekonomi, dan politik perempuan. Mereka aktif turun ke lapangan, mengorganisir buruh perempuan, dan memperjuangkan keadilan sosial. Namun, setelah peristiwa 1965, nama Gerwani dicemari oleh propaganda politik Orde Baru. Perempuan yang aktif di ruang publik mulai dicurigai.
Negara kemudian menata ulang citra perempuan melalui program seperti PKK, Dharma Wanita, dan Bhayangkari, yang menekankan peran perempuan sebagai istri dan ibu rumah tangga. Di sinilah domestifikasi perempuan berlangsung halus tapi sistematis. Perempuan dijauhkan dari ruang berpikir dan dipasung dalam batas moralitas yang ditentukan negara.
Namun, di tengah tekanan itu, kesadaran tidak mati. Organisasi seperti Fatayat NU dan Nasyiatul Aisyiyah tetap bergerak dengan strategi kultural. Mereka menggunakan pendekatan agama untuk memperjuangkan pendidikan dan kemandirian perempuan. Perlawanan mereka tenang, tapi tajam menunjukkan bahwa ide kebebasan bisa tumbuh di mana saja, bahkan dalam sistem yang menindas.
Perempuan dan Ruang Baru di Era Reformasi
Reformasi 1998 membuka kembali pintu kebebasan. Perempuan mulai menuntut keadilan secara terbuka. Lahir lembaga seperti Komnas Perempuan, LBH APIK, Kalyanamitra, dan Solidaritas Perempuan. Mereka menjadi motor penggerak advokasi korban kekerasan, diskriminasi, dan ketimpangan gender.
Ruang perjuangan kini meluas dari jalanan hingga dunia digital. Komunitas seperti Magdalene.co, Women’s March Indonesia, dan Purple Code Collective menjadikan media sebagai alat penyadaran publik. Narasi perempuan kini tidak lagi sekadar tentang 'siapa yang tertindas', tetapi tentang bagaimana perempuan memaknai kekuatan, empati, dan kepemimpinan.
Sebagai perempuan yang juga mengenyam di dunia pendidikan dan karir, saya belajar bahwa kesetaraan tidak bisa tumbuh tanpa pengetahuan. Karena itu, ruang organisasi ekstra kampus bidang perempuan, seperti KOPRI (Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri), Korps HMI-Wati (KOHATI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah untuk kader perempuan (IMMawati), menjadi penting.
Organisasi tersebut bukan sekadar wadah perempuan, tapi ruang untuk berdiskusi, menulis, dan memaknai ulang pengalaman perempuan dalam konteks keislaman, keindonesiaan, dan kebangsaan. Dari ruang ini, banyak kader tumbuh menjadi pemimpin, penulis, dan aktivis yang sadar akan perannya sebagai bagian dari sejarah panjang gerakan perempuan Indonesia.
Kini, gerakan perempuan justru semakin terbuka dan kolaboratif. Di banyak organisasi seperti Fatayat NU dan Nasyiatul Aisyitah, perempuan tak hanya memperjuangkan isu gender, tapi juga keadilan sosial, lingkungan, hingga ekonomi.
Bahkan banyak laki-laki yang ikut bergerak lewat komunitas seperti Aliansi Laki-laki Baru (ALB) yang gerakannya bertujuan mengajak laki-laki untuk terlibat dalam upaya penghentian kekerasan terhadap perempuan. Ini menegaskan bahwa perjuangan kesetaraan bukan soal jenis kelamin, tapi soal kemanusiaan.
Narasi Perempuan dalam Budaya Populer
Untuk memahami esensi gerakan perempuan, kadang kita perlu melihat simbol-simbol yang dekat dengan kehidupan modern.
Seperti dalam anime Attack on Titan, tokoh Mikasa Ackerman, menunjukkan kekuatan yang tidak datang dari ambisi, melainkan dari keberanian melindungi yang ia cintai. Mikasa tidak meminta diistimewakan karena ia perempuan; ia diakui karena kemampuannya yang lahir dari tekad dan ketulusan.
Sementara dalam seri anime Naruto, Tsunade Senju, membuktikan bahwa empati dan keberanian bisa berjalan beriringan. Ia memimpin dengan hati, bukan dengan kekuasaan.
Dua tokoh tersebut mengajarkan bahwa menjadi perempuan berarti berani mengambil keputusan dan tetap manusiawi di tengah kerasnya dunia.
Simbol-simbol seperti ini penting, karena mengajarkan bahwa kekuatan perempuan tidak harus selalu keras atau agresif. Kekuatan bisa hadir dalam kelembutan, keteguhan, dan empati. Tiga hal yang justru sering diremehkan, padahal menjadi inti dari kepemimpinan yang berkeadilan.
Dari Perlawanan ke Kesadaran
Gerakan perempuan hari ini bukan lagi sekadar tentang melawan laki-laki atau sistem patriarki, melainkan tentang membangun kesadaran bersama. Bahwa keadilan sosial hanya bisa terwujud jika setiap manusia tanpa melihat jenis kelamin diberi ruang yang sama untuk tumbuh dan berkontribusi.
Selama masih ada perempuan yang tidak aman di rumahnya sendiri, selama masih ada stereotip yang membatasi pilihan hidup perempuan, maka gerakan ini akan tetap relevan.
Gerakan perempuan bukan perlawanan terhadap laki-laki, tetapi perlawanan terhadap ketidakadilan. Bukan tentang merebut kekuasaan, tetapi tentang merebut kembali kemanusiaan.
Sebagaimana kata Mikasa dalam Attack on Titan, “Kalau ada sesuatu yang ingin kamu lindungi, maka kamu harus siap berjuang.”
Dan perjuangan itu kini berada di tangan kita, para perempuan yang menulis, berpikir, dan berani bersuara. Karena pada akhirnya, gerakan perempuan adalah harapan: harapan akan dunia yang adil, setara, dan manusiawi bagi semua.
Daftar Referensi
Komnas Perempuan. (2024). Catatan Tahunan Kekerasan terhadap Perempuan di Indonesia.
Wieringa, Saskia. (2019). Penghancuran Gerakan Perempuan Indonesia. Yayasan Obor Indonesia.
Suryakusuma, Julia. (2011). Sex, Power, and Nation: An Analytical Study of State Ibuism. Komunitas Bambu.
Mulia, Siti Musdah. (2015). Menuju Keadilan dan Kesetaraan Gender. Penerbit Gramedia.
Kabeer, Naila. (2005). Gender Equality and Women’s Empowerment: A Critical Analysis of the Third Millennium Development Goal. Gender and Development Journal, Vol. 13, No. 1.
Kartini, R.A. (1911). Habis Gelap Terbitlah Terang. Balai Pustaka.


Komentar
Posting Komentar